Showing posts with label Reflection. Show all posts
Showing posts with label Reflection. Show all posts

Tuesday, January 13, 2015

Benih yang tumbuh



Alkisah ada sebuah benih yang tercecer dan tidak dipedulikan orang. Karena merasa rendah diri, benih itu menganggap dirinya tidak penting. 
Suatu hari, angin kencang datang, tiba-tiba ia terjatuh ke sebuah tanah terbuka dan terpanggang di bawah sinar matahari. Dia merasa bingung, mengapa ia harus mengalami semuanya itu? 

Tak lama air hujan turun sebagai gantinya terik matahari, kadang gerimis dan kadang hujan deras.
Sementara waktu berlalu dan tahun berganti, ia melihat seorang pengelana duduk di dekatnya, “Terima kasih Tuhan untuk ini, Saya sangat membutuhkan istirahat.” 
“Apa yg kamu bicarakan?” tanya si benih. Benih itu memang melihat beberapa orang duduk di dekatnya dlm beberapa tahun terakhir, namun tak ada yang berbicara seperti itu.

“Siapa itu?” 
“Ini aku, Benih..”
“Benih?” Pria itu melihat pohon raksasa itu, “Apa kamu bercanda? Kamu bukan benih! Kamu pohon! Sebuah pohon raksasa!”
“Benarkah?”
“Ya! Kamu pikir kenapa semua orang itu datang ke sini? Untuk merasakan keteduhanmu! Jangan beritahu saya bahwa kamu tidak tahu telah mengalami pertumbuhan bersama berjalannya waktu.”
Benih sadar siapa dirinya, benih itu sekarang telah menjadi sebuah pohon raksasa.

Tahukah Anda, kehidupan manusia serupa dengan jalan hidup benih ini. Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya berharga dan tiap kesukaran yang dialaminya di masa lalu adalah sebuah proses untuk membuat mereka kuat dan bertumbuh menjadi pribadi yang besar dan yang dapat menaungi kehidupan banyak orang. 

"Anda Bukanlah Sebuah Benih Lagi, Anda Adalah Sebuah Pohon Dimana Ada Banyak Orang Yang Bernaung!!" 
Jadilah pribadi yang kuat dengan segala kerendahan hati, kebesaran jiwa, penuh kasih dan kesabaran, mampu  menjadi tempat bernaung bagi orang-orang di sekitar anda.

.. _.::::._
  ( •_• )
 ,(")¢(") •::;)☀☃A♏ѓѓѓππ☃
  

ќΐяàήўà ϐεяќàτ, 
 àήûğεяàђ ϑàή ќà§ΐђ
        ϑàяΐ  τûђàή
         τεя©ûяàђ
      ϐàğΐ ќΐτà §εmûà 

•-̶̶•̸Ϟ•̸ Jesus ϐłêšš Ƴöů & fam •-̶̶•̸Ϟ•̸

Thursday, April 17, 2014

Mengantri atau mati?

Ada yang menarik dari artikel kompas yang saya baca hari ini (10 Des 2013 saking lamanya ga selesai nih postingan), "Mengantre atau mati" yang di dalamnya mengulas tentang pentingnya etika mengantri. 
     "Belajar mengatre vs matematika, seorang guru tidak terlalu cemas jika anak didiknya tidak begitu pandai berhitung matematika. Dia lebih cemas jika mereka tidak pandai mengantri. Ketika ditanya mengapa, dengan penuh keyakinan dia menjawab, cukup sekitar tiga bulan intensif untuk dapat menguasai matematika, sedangkan untuk pandai mengantri dan belajar mengenai nilai-nilai dibalik mengantri diperlukan waktu yang cukup lama, dicontohkan setidaknya diperlukan 12 tahun.
     Dalam dunia usaha, tidak semua profesi berhubungan langsung dengan matematika, kecuali dasar-dasar tambah kurang, kali dan bagi. Namun di setiap profesi akan diperlukan etika dan moral yang harus melekat sepanjang hayat.
Ada nilai-nilai yang berharga yang dapat diambil dari kebiasaan mengantri:
1. Seseorang akan belajar manajemen waktu yang baik, jika ingin mendapatkan giliran pertama, maka ia harus datang lebih awal.
2. Belajar bersabar, seseorang diajarkan untuk bersabar, apalagi jika ia berada di antrian paling belakang.
3. Menghormati hak orang lain, dengan adanya antrian, orang harus belajar untuk menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih dulu.
4. Disiplin
5. Kreatif, ketika seseorang sedang dalam antrian, ia dapat berpikir kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang dapat ia lakukan untuk menghilangkan kebosanan selama menunggu antrian.
6. Tabah menjalani proses untuk mencapai tujuan.
7. Belajar hukum sebab akibat, ketika seseorang datang lambat dia dihadapkan pada resiko untuk mendapat antrian di belakang.
8. Belajar keteraturan, dengan mengantri diharapkan ada keteraturan 
9. Rasa malu, malu jika ingin mendahului padahal yang lain bisa teratur untuk mengantri
10. Jujur pada diri sendiri dan orang lain.

     Sangatlah baik apabila nilai-nilai tersebut dapat diterapkan sejak masa kanak-kanak, mengingat etika moral tersebut akan menjadi bekal sepanjang hayat seseorang. Dengan nurani yang terasah dari kecil, niscaya diharapkan seseorang akan menjadi sosok dewasa yang dapat menghargai orang lain dan mendahulukan kebaikan.

Tuesday, June 11, 2013

Kebahagiaan

Arti kebahagiaan: Mana yang lebih membahagiakan: 1: Tidur di hotel bintang lima, nonton show, makan enak; atau 2: bekerja keras mati2an menolong korban bencana alam, tidur di tenda, makanan tidak bersih banyak lalat, tapi berhasil menyelamatkan orang dari reruntuhan gempa bumi.

"Kebahagiaan" sering dimaknai berbeda beda oleh setiap orang, tetapi kita paham ketika kita merasakannya. Ada kenyamanan, ada kenikmatan, ada perasaan damai, atau sebuah angin segar yang kebetulan datang tersenyum pada jiwa kita. Kebahagiaan dan kesuksesan tidak selalu datangnya berbarengan. Sukses punya cerita dan makna yang sering jauh lebih sulit di definisikan.

Ujung setiap pencarian kehidupan sebenarnya adalah kebahagiaan, dan pengejaran kesuksesanpun sebenarnya kearah kebahagiaan. Nah menurut Martin Seligman ada 3 bentuk kebahagiaan, yang mempunyai makna dan arti sedikit berbeda:

The Pleasant Life, Kehidupan yang nyaman, adalah kebahagiaan yang didapat karena kenikmatan kelima indera kita. Makan enak, baju bagus, ranjang yang enak, dengar symphony, pijat spa, nonton bioskop, hotel bintang lima, semua ini memberikan kenikmatan “indera” kita. Rumah bagus, mobil mewah, villa di bukit, dan seringnya keluar negeri untuk jalan2, adalah bagian dari kebahagiaan model ini.

The Good Life, Kehidupan yang baik, adalah kebahagiaan yang didapat karena hal2 yang kita kerjakan menyenangkan. Kerja yang kita sukai, membuat kita lupa waktu dan senang sekali dalam menyelesaikannya. Tugas selesai sesuai jadwal, dihormati para bawahan, dan dipuji atasan, dan semua selesai dengan sangat baik dan menyenangkan. Walau hidup tidak mewah dan jabatan bukan tinggi, tapi hidup membahagiakan.

The Meaningful Life, Kehidupan yang berarti, adalah kenikmatan karena kita mampu mengerjakan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Kita bisa menolong orang yang kena bencana, kita memandang puas pada murid kita yang jadi sukses, kita bangga dengan anak kita yang mampu menjadi “orang”, kita bangga dengan kesebelasan sepak bola kesukaan kita. Kita melihat orang yang kita cintai berbahagia, membuat kita menemukan arti dari perjalanan kehidupan ini.

Hal yang termudah untuk mendapatakan kebahagiaan ketika kita sedang "sedih" atau "sengsara" adalah dengan memakai The Pleasant Life: makan enak, beli baju mahal, berjalan jalan keluar negeri, beli mobil mewah, dan seterusnya. Tetapi ini tidak tahan lama, dan membuat kita “ketagihan” dengan tingkat kepuasan yang merendah setiap saat melakukannya lagi. Karena indera kita semakin bebal merasakan kenikmatannya.

Seorang sopir taksi bekerja keras delapan tahun tanpa mengenal lelah, sampai suatu saat mampu mengajak istri dan kedua orang tuanya naik haji, dan terbayarlah semua kelelahan itu dan kebahagiaannya mengalir terus sampai bertahun tahun kemudian.

Keseimbangan dalam memilih apa yang harus kita lakukan untuk menjadi bahagia, adalah kuncinya. Kita menikmatkan diri kita, tapi juga mencoba menikmati apa yang kita lakukan, dan mencari makna hidup dalam kehidupan kita. Tujuan akhir kehidupan adalah kebahagiaan, dari manapun datangnya bahagia itu. Apa yang telah anda lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan anda?


Lepaskan Kepahitan

      Di suatu hutan hiduplah sekelompok monyet. Pada suatu hari, tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit yang bagian bawahnya tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang yang sudah dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet. Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu.

      Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu. Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal.

      Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu: `Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah! Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu.Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya: `Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang pemburu.

      Demikianlah, kadang kita juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya kita lepaskan: kemarahan, kebencian, iri hati, ketamakan, dan sebagainya. Apabila kita tetap tak bersedia melepas, tatkala kematian datang menangkap kita, semuanya akan terlambat sudah. Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lampau, dan menatap hari esok dengan lebih cerah?Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita bisa melepaskan "kepalan" kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain?

Saturday, December 31, 2011

3 Hal

•Ada Hal yang dapat menghancurkan hidup seseorang :
 Kemarahan, Keangkuhan, Dendam
•Ada Hal yang tidak boleh hilang : Harapan, Keikhlasan, Kejujuran
•Ada Hal yang paling berharga :
 Kasih Sayang, Cinta, Kebaikan
•Ada Hal dalam hidup yang tidak pernah pasti :
 Kekayaan, Kesuksesan, Mimpi
•Ada Hal yang membentuk watak seseorang : Komitmen,
 Ketulusan, Kerja keras
•Ada Hal yang membuat kita sukses : Tekad, Kemauan, Fokus
•Ada Hal yang tidak pernah kita tahu :
 Rezeki, Umur, Jodoh
TAPI, ada Hal dalam hidup yang PASTI :
 Tua, Sakit, Kematian.
Ya Tuhan.,
Sahabat saya yang membaca ini adalah sahabat yg baik, kuat, sabar, sayangilah dia serta kasihilah dia, tolong bantu tingkatkan kehidupannya, mudahkan rejekinya, sehatkan badannya.
Jika dia melangkah, selamatkanlah dia, mudahkan langkahnya ...Amin

smile ^_^
- na -

Thursday, December 15, 2011

Semua Adalah Milik Tuhan


Apakah arti hidupmu?
Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja keliatan lalu lenyap.

Ketika Orang memuji Milikku,
aku berkata bahwa ini hanya titipan saja ....

Bahwa Mobilku adalah titipan-NYA...
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA....
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA....
Bahwa putra/putriku hanyalah titipan-NYA .....

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
• MENGAPA DIA ‎​‎menitipkannya padaku ?
• UNTUK APA DIA menitipkan smuanya padaku?

& kalo bukan milikku,
• Apa yg seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
• Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh NYA?

Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu MUSIBAH,
Kusebut itu UJIAN,
Kusebut itu PETAKA,
Kusebut itu apa saja.....
Untuk melukiskan bahwa semua itu adalah… DERITA

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, Kedaginganku!
Aku ingin lebih banyak Harta,
Aku ingin lebih banyak Mobil,
Aku ingin lebih banyak Rumah,
Aku ingin lebih banyak Popularitas.

Dan kutolak SAKIT, Kutolak KEMISKINAN
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.

Seolah KEADILAN & KASIH-NYA,
Harus berjalan seperti matematika & kehendakku.
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku…
& nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku…

Betapa curangnya aku, Kuperlakukan DIA seolah "Mitra Dagang"ku & bukan "Kekasih"!

Kuminta DIA membalas "perlakuan baikku" & menolak keputusan-NYA yg tidak sesuai keinginanku.

Duh TUHAN.....
Padahal setiap hari kuucapkan…
"Hidup & Matiku, Hanyalah untuk MU ya TUHAN …"

Padahal ketika kelak LANGIT & BUMI bersatu, bencana & berkeberuntungan sama saja, tidak ada artinya lagi…

Mulai Hari ini,
Ajari aku agar menjadi pribadi yg selalu bersyukur dalam tiap keadaan & menjadi bijaksana,
mau menuruti kehendakMU saja ya TUHAN,
Sbab aku yakin ENGKAU akan memberkati hidupku...

smile ^_^
- na -

Thursday, April 14, 2011

read "the book" completely

Ketika kau melakukan kesalahan besar,  
ingatlah ada sesuatu pelajaran baik dari kesalahan itu. Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta.

Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur.

Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.
"Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?" tanya si Pemuda.
"Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore nengokin anak saya yang kedua" jawab ibu itu.
"Wouw..... hebat sekali putra ibu, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung.
Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.
"Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya Bu? Bagaimana dengan adik-adiknya?"
"Oh ya tentu", si Ibu melanjutkan ceritanya
"Anak saya yang ketiga seorang Dokter di Malang,
yang keempat Kerja di Perkebunan di Lampung,
yang kelima menjadi Arsitek di Jakarta.
yang keenam menjadi Kepala Cabang Bank di Purwokerto.
yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang."
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.
"Terus bagaimana dengan anak pertama ibu?"
Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab.
"Anak saya yang pertama menjadi Petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar"
Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani?"
Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
"Ooo ...tidak tidak begitu nak... Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah
yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"
Today's lesson :
Everybody in the world is a important person!!!
Open your eyes...
your heart...
your mind...
your point of view...
because we can't make summary before read "the book" completely.
The wise person says...

​Hanya 1 Jam

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya, "Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?". Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata, "Tidak, nak". Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi, "Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?" Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya. "Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?" Ayahnya tertawa, "Mungkin tidak bisa juga, nak". "OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?". Akhirnya ayahnya mengangguk, "Kemungkinan besar, bisa nak dan kasih Tuhan lah yang akan memampukan kita untuk hidup benar". Anak ini tersenyum lega. "Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah. Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar...." Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati. Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini. Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa, dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat, dan sifat akan berubah jadi karakter, dan karakter akan menjadi destiny..... Hiduplah 1 jam TANPA tanpa kemarahan, tanpa hati yang jahat, tanpa pikiran negatif, tanpa menjelekkan orang, tanpa keserakahan, tanpa pemborosan, tanpa kesombongan, tanpa kebohongan, tanpa kepalsuan... Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya.. . Hiduplah 1 jam DENGAN dengan kasih, dengan sukacita, dengan damai sejahtera, dengan kesabaran, dengan kelemahlembutan, dengan kemurahan hati, dengan kerendahan hati, dg penguasaan diri... Dan ulangilah untuk 1 jam berikutnya.. . Jalanilah kehidupan yang berkenan kpd Tuhan, dg menjalaninya dari waktu ke waktu, dari 1 jam ke jam berikutnya.
Have a nice day...

Hadapi Saja

Seorang petani tua selama bertahun - tahun terpaksa membajak di sekeliling
sebuah batu besar di salah satu petak sawahnya. Batu itu terletak tepat di
tengah sawah pak Tani dan telah mematahkan beberapa mata bajak dan sebuah
cangkul sang petani.

Hari itu mata bajak pak tani kembali patah karena batu besar itu, karena
kesal dengan kejadian yang selalu berulang - ulang, maka pak tani
memutuskan untuk melakukan sesuatu .

" Aku harus menyingkirkan batu ini !", lalu pak tani mengambil linggis dan
ketika ia menacapkan linggis itu ke dasar batu, ia terkejut karena ternyata
batu itu dengan mudah dapat dia angkat dan dia singkirkan.

Setelah selesai, pak tani duduk di tepi sawah miliknya sambil tersenyum,
dia teringat dengan semua kesulitan yang dia alami karena batu itu, dan
ternyata betapa mudahnya dia menyingkirkan batu itu . Sambil menghela
nafas pak tani bergumam sendiri " mengapa hal itu tidak aku lakukan sejak
dulu ".

Saat manusia mengalami masalah dalam hidupnya, kadang yang kita pikirkan
adalah hal - hal yang jauh, sulit dan berbelit - belit.

Dan keengganan untuk langsung menghadapi masalah yang membuat masalah
tidak pernah selesai dan malah akan memancing masalah yang lain.

Padahal belum tentu masalah yang kita hadapin serumit yang kita bayangkan..
hal yang paling bijak kita lakukan adalah " HADAPI" sambil kita " BERSERAH"
dan
"MEMOHON" pada Tuhan untuk diberi kekuatan dan keberanian dalam
menjalaninya.

Positive mind

‎​<3 :) Sesuatu ‎​Ƴ‎ƍ baik, belum tentu benar. Sesuatu ‎​Ƴ‎ƍ bagus, belum tentu berharga. Sesuatu ‎​Ƴ‎ƍ berharga/berguna, belum tentu bagus.

=D Jika Anda tidāk bisa męήjađï Orang pandai, jadilah orang ‎​Ƴ‎ƍ baik.

;) Jika ҝīτɑ berbuat baik, kebaikan pula ‎​Ƴ‎ƍ akan ҝīτɑ terima kelak.

8-| Iri hati Ƴ‎ƍ ditunjukan kepada seseorang akan melukai diri sendiri.
‎​Ƴ‎ƍ penting bukan berapa lama ҝīτɑ hidup, tetapi bagaimana ҝīτɑ hidup.

:* Orang bijaksana selalu melengkapi kehidupannya Ðĕηğaη banyak persaudaraan.

O:) Jika kejahatan di balas kejahatan, maka ítü adalah dendam. Jika kebaikan dibalas kebaikan ítü adalah perkara biasa. Jika kebaikan dibalas kejahatan, itu adalah zalim. Tapi jika kejahatan dibalas kebaikan, itu adalah mulia đaή terpuji.

({}) Persaudaraan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru ҝīτɑ sadari setelah ҝīτɑ kehilangannya

:) Namun ҝīτɑ tidak akan pernah memiliki seorang Saudara, jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.
Karena semua manusia itu baik kalau kita bisa melihat kebaikannya đaή menyenangkan kalau kita bisa melihat keunikannya tapi semua manusia itu akan buruk đªή membosankan kalau kitª tidak bisa melihat keduanya.

:) Sesungguhnya hati adalah ladang, maka tanamlah ia dgn niat ‎​Ƴ‎ƍ baik diiringi dgn perkataan Ƴ‎ƍ baik đaή perbuatan ‎​Ƴ‎ƍ baik dari hati ‎​Ƴ‎ƍ tulus.

Positive minds brings you positive life

Bersyukur

Aku belajar....
bahwa tidak selamanya hidup ini indah.
Kadang TUHAN
mengijinkan aku melalui derita.
Tetapi aku tahu....
bahwa Ia tidak pernah meninggalkanku.
Sebab itu aku belajar menikmati hidup ini.... dengan BERSYUKUR.O:)

Aku belajar....
bahwa tidak semua yang aku harapkan akan menjadi kenyataan.
Kadang TUHAN membelokkan rencanaku. Tetapi aku tahu....
bahwa itu lebih baik
daripada apa yang kurencanakan.
Sebab itu aku belajar menerima semua itu....
dengan SUKACITA.\=D/

Aku belajar....
bahwa pencobaan itu pasti datang dalam hidupku.
Aku tidak mungkin berkata, "tidak... TUHAN".
Karena aku tahu....
bahwa semua itu tidak
melampaui kekuatanku. Sebab itu aku belajar menghadapinya....
dengan SABAR.({})

Aku belajar....
bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali dan ditangisi.
Karena semua rancanganNYA indah bagiku.
Maka dari itu aku harus mau dan bisa belajar
BERSABAR... BERSYUKUR....
dan BERSUKACITA dalam segala perkara.
Karena dengan bersyukur dan bersukacita....
semua itu menyehatkan jiwaku dan
menyegarkan hidupku... Karena aku tau Tuhan mempunyai rencana Indah buat Hidupku.

God is good all the time..:)


SMILE ^_^
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Jangan tunda

*...* 10 malam

ISTRI : sayang, ayo kita ketemu ditempat awal kita bertemu. Aku menunggumu disini

SUAMI : baiklah, aku akan membereskan pekerjaanku dikantor untuk esok hari dulu

ISTRI : kamu lebih memilih pekerjaan untuk esok hari dibanding aku!?

SUAMI : jangan khawatir, aku akan segera kesana, ok?

ISTRI : okay, aku akan menunggumu.

Jam demi jam berlalu, teman lelakinya datang lebih banyak dan mereka malah ngopi² dulu sampai akhirnya dia lupa waktu.

Sang suami itu melihat HPnya dan ada 4 msg dan 10 missed calls.

Dia mematikan HP nya seolah2 baterainya habis.

*...* 1 pagi

Karena kecapekan sang suami itu langsung pulang ke rumah dan melihat mertuanya menangis di luar rumah, dia menantikan sang suami itu pulang untuk memberikan kabar berita ke menantunya untuk segera kerumah sakit.

MERTUA : (sambil menangis) barusan ada seseorang dari kepolisian dan sekarang dirumah sakit menelpon, tas istrimu dijambret dan dia berusaha melawan sehingga akhirnya para perampok menusuknya dengan pisau dan memukulnya hingga tewas!

SUAMI : Jangan bercanda, bu!! Tadi dia masih menghubungi saya

Sang suami itu menyalakan kembali HP nya dan melihat sms yang dikirim istrinya.

*...* 11 malam
Sayang, kamu dimana?

*...* 11: 30 malam
Sayang, kenapa HPmu mati?

*...* 11: 45 malam
Sayang, ada sekumpulan pria mengikuti aku. Aku takut.kamu dimana? : '(

*...* 12 malam
Happy Anniversary Sayang, aku cinta padamu.aku hanya mau mengucapkannya secara langsung, tetapi sepertinya aku tidak akan bertemu kamu malam ini. Selamat malam sayang, aku harap kamu tidak kedinginan dan sakit ketika kamu sampai di rumah.
___________________________________
Sobat, kita tidak akan tahu kapan kita akan kehilangan orang yang kita cintai.

Tunjukkan pada mereka setiap hari seberapa besar kita mencintai mereka.karena kita tidak akan tahu kapan kita sudah tidak bisa mengucapkannya lagi. <3({})
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Thursday, January 13, 2011

God Love You

Saat menciptakanku..


Tuhan tdk pernah COPY-PASTE..
Dia buat SETTINGS hidupku indah,
Dia pilih MINIMIZE kelemahan dan MAXIMIZE kelebihanku..
Semua yang baik Dia INSERT ke dalam hidupku,
DELETE semua kesalahanku dan SAVE masa depanku..
Dia akan selalu membawaku NEXT tanpa BACK dalam masa lalu.. Bahkan SKIP saat kecelakaan akan menimpaku..
Saat aku perlu, Dia menyediakan HELP untuk QUIT dari masalahku.. Dia selalu setia tunggu hatiku OPEN dan siap untuk Dia EDIT..
Dia tak akan mau EXIT dari hidupku sebab akulah FILE berharga sebagai PRINT kasihNYA..
Bahkan Dia rela CLOSE maut untuk menjadi OPTIONS keselamatanku..
‎​Ya,Tuhan selalu memberi NEW SLIDE dalam hidupku.
Walaupun aku kadangkala ERROR, Dia tidak pernah ESCAPE aku dari hati-Nya
Dia CLEAN MEMORYku sehingga membuatku CLEAR.
Dia lakukan itu supaya aku SHOW IMAGE-Nya
Setiap hari aku ijinkan Tuhan VIEW hidupku
Aku biarkan Dia ZOOM hati ku yang paling dalam
Aku mau START hidupku setiap hari dengan PROGRAM sorgawi
MENU apapun yang Tuhan tampilkan dalam hidupku, aku CLICK YES, karena Dia tau apa yg terbaik untukku.
Aku tidak akan pernah men-SHUTDOWN apa kata firman-Nya dalam hidupku, karena firman-Nya tidak dapat diCANCEL. Tanpa firman-Nya aku END PROGRAM..

God love you forever

 

Sekeping Logam Perak

 Ada seorang gadis kecil. Ia diberi oleh ayahnya sekeping uang logam perak. Dia sangat senang dan bahagia, itu adalah uang pertamanya. Ia sangat menyayangi uang logam perak itu, dijaga baik - baik, disimpannya dalam tas saku beludru yang selalu tergantung di lehernya. Bila mala, selalu tas beludru itu digenggamnya erat - erat seakan banyak sekali pencuri yang selalu mengintai logamnya. Bangun pagi, hal pertama yang dilakukannya adalah mengambil minyak dan memoles logam peraknya agar tampak bersinar. Hanya sekeping logam perak…

Setiap ada kesempatan, uang logam itu selalu ia pamerkan kepada setiap teman - temannya, logam perak itu adalah harta paling berharga miliknya. Tak ternilai, tak akan di tukarkan dengan apapun, dan akan dijaganya seumur hidupnya. Begitu janjinya di dalam hati.

Pada suatu kesempatan, gadis kecil ini berjalan mengelilingi pertokoan. Dilihatnya seorang pria muda seusianya membawa sekeping logam seperti miliknya. Hanya warna yang membedakannya. Sang pria muda itu memiliki logam yang berwarna kuning mengkilap. Silau bila terpantul cahaya matahari.

“Wow, logam emas!” Teriaknya dalam hati. “Aku harus memilikinya,” pikir sang gadis kecil. Dihampirinya sang pria muda, ” Boleh ku tukar logam perak ku dengan logam mu?” tanya nya kepada si pria. ” Apa kamu yakin mau menukar logam perak mu dengan punya ku?” kata si pria memastikan. Si gadis kecil diam sejenak, ia berpikir, ini logam kesayangannya, apa akan ku tukar ya. Tetapi cahaya silau yang terpantul dari logam milik si pria muda membuyarkan lamunannya. ” Iya, akan ku tukar!”

Demikianlah sekarang sang gadis kecil miliki logam yang berwarna kuning mengkilap yang ia peroleh dengan menukarkan logam perak kesayangannya. Diletakanlah dalam logam barunya dalam tas beludrunya, dan dibawa pulang. Dengan bangga gadis kecil menunjukan logam barunya kepada teman - temannya, tetapi semua berkata logam perak miliknya yang lama lebih bagus. Ia sangat marah. Si gadis kecil pulang ke rumah, dan memperlihatkan logam barunya kepada si ayah, si ayah bilang bukan keputusan yang bijak menukarkan logam kesayangannya dengan  logam barunya itu. Si gadis kecil bertambah kesal.

Ia mengurung diri di kamar, dan memperhatikan logam barunya. “Ini logam emas, warnanya kuning mengkilap, bersinar lebih indah dari pada logam perak ku yang lama. harganya pasti lebih mahal. Pasti lebih berharga.” Dengan meyakinkan dirinya sendiri, sang gadis tertidur pulas.

Hari berganti hari, si gadis sudah beberapa hari tidak membuka tas beludrunya. Ketika ia teringat akan tas beludrunya, ia membuka dan mengeluarkan uang logam yang terdapat di dalamnya. Diperhatikan logam barunya. Lalu si gadis mengambil minyak untuk menggosok logamnya. Tak lama si gadis mengambil kain lap. Entah mengapa dengan agak panik si gadis mengambil tissue. Ia terus menggosok logamnya dengan minyak dan lap, kemudian menggosoknya lagi dengan tissue.

Melihat tingkah anaknya, si ayah menghampiri si gadis kecil dan bertanya: “ada apa gadis manis ayah, kok tampak bingung?” dengan mata berlinang air mata yang hampir tertumpah, si gadis berkata ” Ayah, logam baru ku tampak kusam, tampak hitam, tidak bisa bersih dengan minyak, dan lap yang biasa. Semakin ku gosok, ia semakin kusam.” Dengan menghela nafas panjang, sang ayah berkata dengan tenang :” Gadis kecil ayah yang manis, kamu tahu logam yang ayah beri kepada mu logam apa?” tanya sang ayah. ” tahu, logam perak kan ya? ” “betul, lalu kamu tahu ini logam apa?” ” Ini logam emas yang seharusnya lebih berkilau indah dan mahal dari pada logam perak kesayangan ku itu kan yah?” Sang ayah berkata dengan sabar, “Benar ini tampak seperti logam emas, tetapi ini bukan logam emas anakku. Ini adalah logam tembaga. Ia tampak seperti emas, tetapi tidak seindah emas, bahkan tidak seindah perak yang ayah berikan.”

Mengertilah si gadis kecil mengapa semua teman - teman dan ayahnya dari semula berkata logam perak kesayangannya lebih indah. Menyesalah si gadis kecil. Kemudian ia berusaha mencari pria muda yang menukar logam perak miliknya, bahkan ia membawa beberapa boneka kesayangannya untuk ditebus dan ditukarkan kembali dengan logam perak miliknya. tetapi ia tidak menemukan anak laki - laki itu lagi.

Sering kali kita tidak mengetahui, tidak menyadari betapa berharganya apa yang kita miliki saat ini. Apapun itu, orang - orang yang kita sayangi dan yang menyayangi kita, benda, waktu, kesempatan, atau apapun itu. Sering kali kita me-underestimate kan apa yang kita miliki saat ini.

Rumput tetangga terlihat lebih hijau. Sering kita terpikat oleh silaunya pantulan cahaya milik orang lain. Padahal hal yang terlihat belum tentu seindah nampaknya. Sering kita melihat orang lain nampak lebih bahagia, kekasih orang lain lebih tampan/cantik, atau apa saja, sehingga kita lupa bersyukur atas apa yang kita punya.

Kita sering menukar harta kita yang paling berharga dengan sesuatu yang membuat kita terpukau, tetapi hal itu hanya sesaat. ketika kita kemudian menyadarinya, kita sudah melakukan kesalahan. Kita menyesal. tetapi belum tentu sesuatu itu bisa diperbaiki dengan mudah. Konsekuensi pasti ada. Kita harus lebih berupaya memperbaiki kesalahan kita.

Bersyukurlah, berpikir dengan bijak, hargai mereka yang menyayangi, sayangi mereka yang kau sayangi.

Alasan Untuk Bersyukur

Untuk mengucap syukur sebenarnya tidak diperlukan alasan-alasan yang rumit, tapi tidak ada salahnya kalo aku coba memberikan beberapa pertimbangan mengapa kita harus bersyukur disetiap detik laju hidup kita
1. Jika kamu tinggal di rumah yang nyaman, memiliki cukup makanan dan minuman untuk tubuh kamu, itu merupakan hal sederhana yang menunjukkan bahwa kamu menjadi bagian dari orang-orang terpilih
2. Jika kamu bisa bangun di pagi hari ini dengan sehat dan segar bugar, kamu beruntung dibanding sekian banyak orang yang harus terbaring di rumah sakit dan yang harus bertahan untuk melawan penyakitnya.
3. Jika kamu memiliki stock makanan di lemari pendingin, baju di lemari pakaian dan atap yang menaungi, beruntungnya kamu dibanding sekian banyak orang yang kelaparan dan tidak memiliki tempat tinggal
4. Jika kamu masih dapat bekerja dan berusaha dengan kemampuan yang kamu miliki, bersyukurlah karena masih banyak pengangguran di luar sana, dan banyak orang yang belum mendapat kesempatan untuk itu.
5. Jika kamu masih bisa tersenyum dan membagikan senyuman kamu, berbahagialah karenan kamu sudah menebarkan kasih dan kebaikan kepada orang yang kamu jumpai.

yuk kita nikmati hari yang indah ini, kita hitung karunia yang telah kita terima dan sampaikan pada orang-orang disekeliling kita, agar lebaih banyak orang dapat bersyukur dan menikmati hidup yang hanya sebentar ini.. ^-^

Wednesday, December 15, 2010

Sebuah renungan

‎​MAU KERANG REBUS ATAU MUTIARA??

Waktu kerang mencari makan, ia akan membuka cangkang penutup badannya. Buka,tutup, buka,tutup.
Suatu hari disaat cangkang seekor kerang muda terbuka, sebutir pasir masuk ke dalam cangkang kerang itu. Sang kerang muda menangis sambil memanggil-manggil ibunya.
"Bu sakit bu..ada pasir masuk ke dalam tubuhku"
Sang ibu menjawab: "Sabar ya nak, jangan pedulikan sakit itu, bila perlu berikanlah kebaikan pada sang pasir yg menyakitimu itu"
Kerang muda pun menuruti nasihat ibunya. Ia menangis, tapi air matanya ia gunakan untuk membungkus pasir yg masuk ke dalam tubuhnya.
Hal itu terus menerus dia lakukan. Dengan baluran air mata itu, rasa sakitnya pun berangsur berkurang bahkan hilang sama sekali.
Beberapa saat kemudian, kerang2 itu dipanen. Kerang yg ada pasirnya dipisahkan dari kerang yg tdk ada pasirnya. Kerang tak berpasir dijual secara obral di pinggir jalan menjadi 'kerang rebus'. Sedangkan kerang yang berpasir dijual ratusan bahkan ribuan kali lipat lebih mahal.
Mengapa begitu?
Karena butiran pasir berbalut air mata yang ada di dalam kerang itu telah berubah menjadi inti mutiara.
Sama dg kita, bila dalam hidup ini kita tak pernah ditempa oleh kesulitan maka kita tidak akan punya nilai tinggi dan akan bernasib seperti kerang rebus yang dijual secara obral di pinggir jalan. Sebaliknya kalau kita mampu menghadapi tiap kesulitan bahkan mampu memberi manfaat pada org lain ketika kita mendapat kesulitan, kita akan menjadi kerang mutiara yg sangat dibutuhkan orang dan yg kita hasilkan juga dipakai oleh orang2 terhormat.
Hidup adalah pilihan.
Anda boleh memilih menjadi kerang rebus atau mutiara....
atau hanya sebutir pasir yg bikin air mata mengalir ?

Life is a choice, be the best on your side...

Friday, November 12, 2010

"Shi Sang Chi You Mama Hau"

Kisah yg tak kan lekang oleh jaman…
Cintailah Mama kita sebagai mana kita mencitai diri kita sendiri. I luv u mom….
Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.
Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tersebut. Sebagai orang yang terpandang di kota tersebut, latar belakang wanita tersebut akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.
Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tersebut bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).
Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orangtuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tersebut, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.
Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang orangtua mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.
Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tersebut untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang-orang tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan-lahan.
Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tersebut meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tersebut dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.
Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tersebut. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?.
Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tersebut untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.
Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan-penolakan akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.
Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita yang malang tersebut tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.
Detik .. Menit …. Jam …. Hari …. Minggu ………Tahun …… Tak terasa Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki-laki. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat.
Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba-tiba sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tersebut harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tersebut akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.
Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tersebut terdiri dari obat-obatan herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat-obat herbal tersebut, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.
Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tersebut telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian. Diantara tangisannya, ia tiba-tiba mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..
Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu ………… .
Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama-sama menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau” (terjemahannya “Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik”).
Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari-hari mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas. Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.
Sang anak segera pergi ke toko tersebut, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tersebut, karena ia akan membelinya bulan depan. “Apakah kamu punya uang?” tanya sang pemilik toko. “Tidak sekarang, nanti saya akan punya”, kata sang anak dengan serius.
Ternyata, bulan depan sang anak benar-benar muncul untuk membeli jam tangan tersebut. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main-main. Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya “Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan?”. “Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah” kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tersebut.
Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tersebut. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba-tiba tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tersebut. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.
“Apakah kamu mencuri, Nak?” Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya berklai-kali tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri. “Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?” kata sang ibu.
Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya. Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tersebut heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. “Ia sebenarnya anak yang baik”, kata salah satu tetangganya.
Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba-tiba sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.
“Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya”. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba-tiba muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tersebut, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.
Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tersebut, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu.”Maafkan saya, Nak.”
“Tidak Bu, saya yang bersalah”
Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang orangtua sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak. Ketika sang ibu dan anaknya berjalan-jalan ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.
Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.
Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.
Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota, bermain-main di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu “Shi Sang Chi You Mama Hau”, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak. Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu. “Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak” kata ibu. “Tidak apa-apa Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama-sama dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu”, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.
Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta-ronta ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. “Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu”, teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata “Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.” “Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi”, sang anak mulai menangis.
Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tersebut tidak didengarkan anak kecil tersebut. Sang anak menangis tersedu-sedu “Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu”. Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan “Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini”, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tersebut. Tampak anaknya meronta-ronta dengan ledakan tangis yang memilukan.
Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu-satunyanya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.
Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga……….
Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan. Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tersebut, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.
Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tersebut, menangis “Ibu benar-benar tidak menginginkan saya lagi.”
Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar. Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.
Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tersebut. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan-tulisan imut anaknya dalam surat itu.
Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tersebut, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya.
Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba-tiba ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tersebut. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tersebut untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.
Benar saja, ternyata sang anak berada di sana. Tetapi ia pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling-guling jatuh ke bawah……….
Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana-mana, tetapi hasilnya nihil.
Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tersebut terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit. Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah “Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?”. Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu “Shi Sang Ci You Mama Hau” dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tersebut saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan haru “Ibu? Ini saya ibu”.
Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba-raba muka sang anak, lalu bertanya, “Apakah kamu ??..(nama anak itu)?” “Benar bu, saya adalah anak ibu?”. Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi …………… .
Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila.
Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:
Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya.. Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :
1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.
Diantara orang-orang disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ………..
Tidak diragukan lagi “Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini
1. Bila Anda beruntung (Ibu Anda masih ada di dunia ini), ajaklah ia untuk keluar makan atau jalan-jalan MALAM INI JUGA. Jangan ditunda2. Bila Ibu Anda tinggal di tempat yang terpisah jauh dengan Anda, telponlah dia malam ini juga, just to say “hello”. Catatlah hari ulang tahunnya, rayakan, dan bahagiakanlah dia semampu Anda. Hidangkan makanan favoritnya, dan seterusnya.
2. Kirimkan kisah film ini kepada saudara/i Anda, teman2 Anda, maupun rekan-rekan kerja Anda. Bagi sebagian dari mereka, kisah ini mungkin akan seperti setetes embun yang menyegarkan jiwa mereka, yang terkadang terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri

Tuesday, March 02, 2010

Sebuah renungan

 

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
~Author Unknown
***
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Bola2 golf....batu koral dan pasir

Dear all......
Seorang profesor berdiri di depan kelas Filsafat...
Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil toples kosong yang
besar dan mulai mengisi dengan bola2 golf.
Lalu dia bertanya kepada muridnya, apakah toples itu sudah penuh.
Semua berteriak bersama ..."penuuuh"
Lalu dia mengambil sekotak batu koral dan menuangkanya kedalam
toples. Dia menguncang dengan ringan. Batu2 koral masuk ,mengisi
tempat yg kosong di antara bola-bola golf. Dia kembali bertanya,
apakah toples itu sudah penuh. Mereka semua mengangguk.Berarti
nampaknya penuh pertama kali, namun masih ada sela2 untuk koral....
Selanjutnya prof mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam
toples.Tentu saja pasir itu masuk dan mengisi sela2 koral dan bola
golf, hingga menutup segala sesuatunya. Toples terlihat sudah
penuh Prof lalu menuangkan 2 cangkir bubuk kopi ke dalam toples
dan bubuk kopi tsb masih bisa mengisi ruangan kosong di antara
bola golf, koral dan pasir.Para murid tertawa...
"Pahami,bahwa toples ini menggambarkan kehidupanmu .
"Bola-bola golf adalah hal-hal yg penting : Tuhan,keluarga, anak-anak,
kesehatan
Batu-batu koral adalah pekerjaan,rumah dan mobil.
Sedangkan pasir adalah hal-hal lainya yang sepele.
Jika kalian pertama kali memasukan pasir ke dalam toples,maka
tidak akan tersisa ruangan untuk batu-batu koral ataupun bola-bola
golf...Kalian akan menghabiskan energi untuk hal-hal yang sepele.
Jadi...Beri perhatian untuk hal-hal yg utama. Beribadah, berdoa.
Sayangilah keluargamu. Bermainlah dengan anak-anakmu.Luangkan waktu
untuk check up kesehatan. Berikan perhatian terlebih dahulu pada
'BOLA-BOLA GOLF'
Salah seorang murid bertanya "Kopi mewakili apa?"
Prof:"itu untuk menunjukan bahwa sekalipun hidupmu tampak begitu
penuh, masih tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama
sahabat...

Friday, January 15, 2010

Dimana Letak Bahagia Anda?

"Tempat untuk berbahagia itu ada di
sini. Waktu untuk berbahagia itu kini.
Cara untuk berbahagia ialah dengan
membuat orang lain berbahagia
"                      -- Robert G. Ingersoll

apakah saat ini merasa bahagia?

Di mana letak kebahagiaan Anda sesungguhnya?
Apakah pada moleknya tubuh? ..Jelitanya rupa? Tumpukan harta?
...atau barangkali punya mobil mewah & tingginya jabatan?
Jika itu semua sudah Anda dapatkan, apakah Anda bisa memastikan bahwa
Anda *akan* bahagia? kekayaan yang melimpah bukan jaminan
akhir kehidupan yang bahagia!

Kebahagiaan memang menjadi faktor yang begitu didambakan bagi semua orang.
Hampir segala tujuan muaranya ada pada kebahagiaan.
Kebanyakan orang baru bisamerasakan *hidup* jika sudah menemukan kebahagiaan.

Pertanyaannya, di mana kita bisa mencari kebahagiaan?

Apakah di pusat pertokoan? Salon kecantikan yg mahal? Restoran mewah?
Di Hawaii? di Paris? atau di mana?
Sesungguhnya, kebahagiaan itu tdk perlu dicari kemana-mana... karena ia ada di hati setiap manusia.

Carilah kebahagiaan dalam hatimu!
Telusuri 'rasa' itu dalam kalbumu!
Percayalah, ia tak akan lari kemana-mana...
Bagaimana kita sesungguhnya bisa mendapatkan kebahagiaan *setiap hari*?
Berikut adalah tips yang bisa Anda lakukan:
1. Mulailah Berbagi!
    Ciptakan suasana bahagia dengan cara
    berbagi dengan orang lain. Dengan cara
    berbagi akan menjadikan hidup kita
    terasa lebih berarti.
2. Bebaskan hati dari rasa benci,
    bebaskan pikiran dari segala
    kekhawatiran.
    Menyimpan rasa benci, marah atau dengki
    hanya akan membuat hati merasa tidak
    nyaman dan tersiksa.
3. Murahlah dalam memaafkan!
    Jika ada orang yang menyakiti, jangan
    balik memaki-maki. Mendingan berteriak
    "Hey! Kamu sudah saya maafkan!!".
    Dengan memiliki sikap demikian, hati
    kita akan menjadi lebih tenang, dan
    amarah kita bisa hilang. Tidak percaya?
    Coba saja! Saya sering melakukannya. :-)
4. Lakukan sesuatu yang bermakna.
    Hidup di dunia ini hanya sementara.
    Lebih baik Anda gunakan setiap waktu
    dan kesempatan yang ada untuk melakukan
    hal-hal yang bermakna, untuk diri
    sendiri, keluarga, dan orang lain.
    Dengan cara seperti ini maka
    kebahagiaan Anda akan bertambah dan
    terus bertambah.
5. Dan yang terakhir, Anda jangan
    terlalu banyak berharap pada orang
    lain
, nanti Anda akan kecewa!